Jumantara

Puisi Karya: Furqon Dinnata
Laksana gugusan bintang mengiringi kepergianmu.
Kelamnya malam bercengkrama dengan laraku.
Saban hari kumenerka, apa yang akhirnya kini menjadi nyata.Luruh segenap asa, tersulut api membakar kenang.
Khayal tentangmu masih saja abadi.
Dalam ruang hampa palung dada, kau menjelma renjana penuh makna.
Membekas walau terlepas, menyayat walau tak dekat.
Semesta membawa asa melesat naik ke atas langit.
Syahdan, khayalku terbuai di pelupuk cakrawala.
Sesambil menengadah, ku nikmati pelik yang mendera kalbu.
Kau adalah igauan paling nyata disela-sela kata,
angan paling jelas dalam pelupuk mata, serta awalan yang paling akhir disegala kisah.
Kau adalah kepulangan yang tetap kunanti,
kehilangan yang masih kucari, dan duka yang paling kunikmati.
Kau adalah tujuan tanpa arah,muara tak berkesudahan, rasa tanpa nama.
Kau adalah ketidakmungkinan�disegala kemungkinan.
Barangkali, satu-satunya yang menjadi milik kita ialah pertemuan.
Setelahnya, lantun-lantunan berujung kepada semoga�lekas kembali.
Kepada jiwa-jiwa yang disetubuhi kerinduan sepanjang gulita, kau serupa monolong berpenuh jeda.
Dalam kisah bertajuk sementara�kau abadi.
Comments
Sign in to join the conversation
No comments yet.
Be the first to share your thoughts!